The Greatest Ever: Kemenangan Elephant Kind Melawan Egonya Sendiri dan Luputnya Pendalaman Makna

Trio power pop asal Jakarta ini berhasil menemukan jati diri sebenarnya

Berselang tiga tahun setelah album debut ambisius bertajuk City J, Elephant Kind kembali hadir dengan karya terbarunya, The Greatest Ever. Perubahan yang efisien telah terjadi. Trio power pop asal Jakarta ini lebih mengenal diri sendiri berkat perjalanan musik yang telah mereka tempuh; album pendek Scenarios (2014) dan PROMENADES (2015), album penuh City J(2016), proyek musik personal dari Bam Mastro (vokal/gitar) dan Bayu Adisapoetra (drum), juga penyegaran dari kehadirannya Kevin Septanto (bass).

Di album penuh pertamanya, energi Elephant Kind kerap melebar keluar lintasan. Tidak buruk, hanya saja tidak berada di tempatnya. Salah satu contohnya ketika Bam menumpahkan antusiasnya terhadap musik hip hop/trap untuk bisa melebur dengan spektrum musik Elephant Kind. Nuansanya tidak selalu berhasil, cenderung terlalu belang dengan dua album pendek sebelumnya. Di era tersebut, Elephant Kind seperti dikendalikan oleh ego liarnya sendiri.

Kemudian The Greatest Ever berhasil memperbaikinya dengan cara merangkum semua perjalanan tadi ke dalam 10 lagu di dalamnya. Anda bisa mendengar seluruh elemen musik para personel Elephant Kind diperdayakan dengan cara yang tepat guna. Dimulai dari birama ala musik Afrika, pemanfaatan instrumen yang modern, sampai sentuhan alter-ego pop punk dari salah satu personel. Elemen-elemen ini berdiri di atas pondasi indie rock mereka yang terbangun berkat kegemaran dengan Arcade Fire hingga The War on Drugs.

The Greatest Ever dibuka oleh nomor One dengan begitu mulus. Tembang danceable ini memberi porsi vokal dan isian gitar Bam dengan sangat baik. Durasinya pun tidak sampai tiga menit, membuat lagu ini menjadi pemanasan yang efektif untuk para pendengar menyambut sajian-sajian berikutnya.

Pleaser, lagu yang ditunjuk sebagai salah satu single dari The Greatest Ever, adalah penggambaran yang sangat baik dari upaya rangkum yang dibahas di paragraf sebelumnya. Salah satu nilai tambah dari lagu ini adalah repitisi liriknya yang berbunyi, “I’m out of my mind”, sehingga cukup mudah diingat.

Kekuatan dari The Greatest Ever lainnya berada di I Believe In You. Lagu ini terdengar begitu lara dan tulus dalam waktu yang bersamaan. Sebuah curahan akan kekecewaan dari keputusan seseorang di mana satu-satunya cara untuk memperbaikinya adalah tetap jalan ke depan. “Got to let you go, we all need to grow. Tho’ I do believe, Yes I do believe in you”.

Namun lagu yang paling cemerlang justru layak disematkan kepada Better Days. Lagu ini memiliki pendekatan yang berbeda berkat peran bebunyian synthesizer di dalamnya. Meski instrumen ini sudah hadir di karya-karya Elephant Kind sebelumnya, khususnya di album ini, namun Better Days hidup dengan nyawa yang lebih menggugah.

Selama hampir enam menit, daya tariknya tidak pernah luntur. Pendengar mendapat siraman vokal gospel sejak detik pertama yang kemudian disambut oleh spirit futuristik. Refrainnya begitu mencerahkan, “These are the better days, if not today must be tomorrow. If not today must be.” Di tambah lagi, adanya asupan vokal yang elok dari Heidi (The Girl with the Hair) yang menyanyikan, “Will you find me lights in the dark. I wanna see my purpose in life completely.”

Jika saja Elephant Kind menyisipkan salah satu nama Tuhan dalam Better Days, mungkin para umatnya akan terpikir untuk menggunakan lagu ini sebagai salah satu cara berdoa di tempat ibadah mereka.

Perihal bagian lirik, Bam memang menulisnya dengan cara yang lebih gamblang. Lirik-liriknya mengalir sederhana selaras dengan arus musiknya. Isinya menyiratkan pengalaman yang lebih personal.

Sayang tidak semua lirik The Greatest Ever memiliki hikmat yang menggugah perasaan, sebagai contoh adalah Jim Halpert, Watermelon Ham, dan Feels. Walaupun pendengar memiliki kemampuan interpretasi masing-masing terhadap karya Elephant Kind, tetapi upaya menulis lirik dalam menciptakan relevansi sekaligus kontemplasi terhadap banyak orang juga menjadi hal yang penting. Ini adalah upaya atas nama kedalaman makna, The Greatest Ever masih luput akan hal tersebut.

Penulis: Pramedya Nataprawira

Editor: Fik


Photography By : Dokumentasi Cubs Club Entertainment




TAGGED :

Related Article

Gambaran situasi para pewarta musik hari ini ...
Sebuah karya lanjutan dari band rock Ibu Kota yang tengah melambung namanya. ...
“Rancangan awal memang kami pengin bikin band akustikan. Kami mikirnya lebih ke arah simple. Bisa ...
Semangat Do It Yourself (D.I.Y) adalah sebuah credo wajib bagi anak-anak punk. Etos itu pun berlaku ...
Dalam memperingati usia dua dekade di 2019 salah satu band pop punk berpengaruh tanah air. ...
Sebuah karya lugas dari band power pop asal Jakarta ...
Tertanggal 6 desember 2018 silam adalah kali pertamanya semua personel Deadsquad era Horror Vision/P ...
Biduan pop, Vira Talisa, sukses menampakan keemasan musik pop Indonesia lewat Primavera. Jika di kar ...
Mural sosok dua tokoh ini menyapa saya dikala tiba di kota kelahiran, Solo, Jawa Tengah. ...
Koleksi piringan hitam makin hari harganya makin naik. Meskipun dari zaman ke zaman pembelinya makin ...
Baru sekali-kalinya ini lihat album CD tapi pas dipegang ternyata itu BATU. Pas dimasukkan ke kanton ...
Waktu lihat video Jason Dennis lijnzaat main di venue skatepark Palembang saat Asian Games 2018, say ...
Traveling ke ruang angkasa, menjelajah satu galaksi ke galaksi lain. Buat saya, cerita kayak begini ...
Buat saya, toko barang bekas dan barang antik adalah "museum" kecil-kecilan. Semua barang yang lampa ...
Buat saya, musik itu pancing energi, apalagi setelah kerjakan semua yang penting-penting dan lagi bu ...
Jadi gara-garanya saya lihat satu video. Bagian depannya ada gambar satu rangkaian kereta ekspres me ...
Waktu saya lihat gitar listrik, yang identik dari benda satu ini adalah suara "grrrrr", "bzzz", dan ...
Tour? Memangnya tempat wisata? Atau memang bisa jadi tempat wisata Instagram? Enggak tahu juga. Engg ...
Tak hanya Instagram atau media sosial lainnya, buku foto kini menjadi sarana ekspresi diri kekinian. ...
Setiap orang bisa keras kepala. Percaya enggak sama omongan ini? Kadang-kadang alasannya demi memper ...
"Dulu waktu awal-awal kerja di daerah Cikini, gue tinggal jalan sedikit ke Jalan Surabaya kalau lagi ...
Eyehategod adalah band sludge metal asal Amerika Serikat, tepatnya New Orleans, Louisiana. ...
Terdapat album debut, album comeback, maupun album lanjutan yang mencuri perhatian ...
Tren kedai kopi susu kekinian nampaknya masih akan terus berlanjut panjang. ...
Siapa tak kenal almarhum Gesang, maestro Keroncong Indonesia? ...
Terapi musik bisa menenangkan kecemasan, mengurangi rasa sakit ...
Please wait...