Agterplaas: Eksplorasi The Adams dalam Ruang Kesederhanaan

Sebuah karya lugas dari band power pop asal Jakarta

Saat banyak musisi menumpahkan isi kepalanya demi menghasilkan jutaan lapisan eksplorasi di dalam sebuah karya, The Adams justru bermain di area kesederhanaan untuk Agterplaas. Selain mereka paham bahwa kesederhanaan adalah dataran yang paling tepat untuk berdirinya musik The Adams, mereka juga seakan tahu bahwa kesederhanaan adalah sebuah rehabilitasi yang dibutuhkan pendengar musik hari ini. Dua belas lagu di dalam Agterplass adalah disiplin mereka dalam menjaga titik fokus eksplorasi tersebut. Masa absen selama 13 tahun ternyata tidak menguap sia-sia.

Agterplaas adalah album penuh pertama The Adams dengan formasi Ario Hendarwan sebagai gitaris-vokalis, Saleh Bin Husein sebagai gitaris-vokalis, Pandu Fuzztoni sebagai pemain bas-vokalis, dan Gigih Suryoprayogo sebagai pemain drum-vokalis. Keempatnya kini berbagi satu tugas yang sama yaitu bernyanyi. Sebagai band yang memiliki harkat kuat dalam meramu harmonisasi vokal, The Adams memilih mengistimewakannya – bukan mengeksploitasi – untuk album ini. Langkah yang berani mengingat mayoritas materi di album The Adams (2004) dan V2.05 (2006) telah terbungkus apik oleh vokal dari Ario.

Salah satu hal yang membuat kesederhanaan Agterplass menjadi rasa yang menyegarkan adalah ruang atau jeda instrumen yang dibiarkan mengalir dan melahirkan jiwanya sendiri. Hal ini dapat didengar jelas di beberapa lagu seperti Lingkar Luar, Gelap Malam, dan Masa-Masa. Khusus untuk judul lagu yang terakhir disebutkan, The Adams berhasil menciptakan sebuah nomor yang paling lugas dan tepat guna. Pendengar dibiarkan terdongeng oleh verse yang disampaikan oleh Ario, “Kau selalu ada untuk tertawa, tak pernah lupa. Dan meskipun salah, ikuti saja, karena muda jiwa remaja”, kemudian disambut oleh bagian chorus yang mudah mengingatkan kita kepada Jump, hanya saja para personel Van Halen kini lebih manis dan sentimental.

The Adams memang menempatkan sedikit getaran musik rock/pop era 80-an hingga 90-an di Agterplaas. Terdapat kecohan-kecohan progresi nada seperti di nomor pembuka Agterplaas, Sendiri Sepi, maupun Pesona Persona. Namun sayangnya kecohannya tak selalu berhasil, seperti yang mereka lakukan di nomor Esok. Ditambah, lagu ini disusun dengan asupan-asupan yang mengagetkan, liar, bahkan tidak dibutuhkan.

Berbicara tentang isi liriknya, Agterplaas bertutur cukup “telanjang”. Dalam Doa adalah ungkapan rindu kepada seseorang yang sudah tiada; dalam sebuah wawancara, Saleh bercerita bahwa ia mempersembahkan lagu ini kepada mendiang ibunya. Pelantur, lagu paling berenergi dari Agterplaas, mengisahkan drama yang dihasilkan dari interaksi ringan di warung kopi. Ada pun Lingkar Luar, sebuah penggambaran eksplisit tentang perjuangan membelah kerasnya kota Jakarta.

Sedangkan lirik Esok, Gelap Malam, Sendiri Sepi, dan Sinar Jiwa terasa bias karena memiliki satu kesamaan; membahas tentang kerentanan diri dalam menghadapi masa lalu, kesendirian, dan masa depan. Sedangkan Masa-masa, Pesona Persona, dan Timur terasa sudah tidak lagi mewakili latar belakang hidup personel The Adams. Sudut pandangnya yang digarap dengan pendekatan lebih universal, malah menghasilkan pretensi agar lebih mudah diterima di generasi lainnya.

Satu frasa yang mengatakan bahwa tidak ada hal yang baru di bawah matahari ini adalah benar adanya. Namun, tidak menutup fakta bahwa seorang pencipta, dalam bahasan ini berarti musisi, masih memiliki ruang yang sangat luas untuk bereksplorasi. Kalian dapat menemukan salah satu buktinya di Agterplaas, sebuah album berdaya guna dari sebuah pangkal yang sederhana.

Penulis: Pramedya Nataprawira

Editor: Fik


Photography By : Dokumentasi The Adams




TAGGED :

Related Article

Gambaran situasi para pewarta musik hari ini ...
Sebuah karya lanjutan dari band rock Ibu Kota yang tengah melambung namanya. ...
“Rancangan awal memang kami pengin bikin band akustikan. Kami mikirnya lebih ke arah simple. Bisa ...
Semangat Do It Yourself (D.I.Y) adalah sebuah credo wajib bagi anak-anak punk. Etos itu pun berlaku ...
Dalam memperingati usia dua dekade di 2019 salah satu band pop punk berpengaruh tanah air. ...
Tertanggal 6 desember 2018 silam adalah kali pertamanya semua personel Deadsquad era Horror Vision/P ...
Biduan pop, Vira Talisa, sukses menampakan keemasan musik pop Indonesia lewat Primavera. Jika di kar ...
Mural sosok dua tokoh ini menyapa saya dikala tiba di kota kelahiran, Solo, Jawa Tengah. ...
Koleksi piringan hitam makin hari harganya makin naik. Meskipun dari zaman ke zaman pembelinya makin ...
Baru sekali-kalinya ini lihat album CD tapi pas dipegang ternyata itu BATU. Pas dimasukkan ke kanton ...
Waktu lihat video Jason Dennis lijnzaat main di venue skatepark Palembang saat Asian Games 2018, say ...
Traveling ke ruang angkasa, menjelajah satu galaksi ke galaksi lain. Buat saya, cerita kayak begini ...
Buat saya, toko barang bekas dan barang antik adalah "museum" kecil-kecilan. Semua barang yang lampa ...
Buat saya, musik itu pancing energi, apalagi setelah kerjakan semua yang penting-penting dan lagi bu ...
Jadi gara-garanya saya lihat satu video. Bagian depannya ada gambar satu rangkaian kereta ekspres me ...
Waktu saya lihat gitar listrik, yang identik dari benda satu ini adalah suara "grrrrr", "bzzz", dan ...
Tour? Memangnya tempat wisata? Atau memang bisa jadi tempat wisata Instagram? Enggak tahu juga. Engg ...
Tak hanya Instagram atau media sosial lainnya, buku foto kini menjadi sarana ekspresi diri kekinian. ...
Setiap orang bisa keras kepala. Percaya enggak sama omongan ini? Kadang-kadang alasannya demi memper ...
"Dulu waktu awal-awal kerja di daerah Cikini, gue tinggal jalan sedikit ke Jalan Surabaya kalau lagi ...
Please wait...